Rabu, 14 Januari 2009

MAKALAH

PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
KONEKSI MATEMATIK SISWA SMK


Disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika
di UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
24 November 2007
















Disusun oleh
Drs Rudy Kurniawan, M.Pd







PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN YASIKA
MAJALENGKA
2007
PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL
UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN
KONEKSI MATEMATIK SISWA SMK

Rudy Kurniawan
(STKIP YASIKA Majalengka)
Abstrak
Penelitian ini berupaya mengungkap hasil pembelajaran, berupa perbandingan peningkatan kemampuan koneksi matematik, antara siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual dengan siswa yang pembelajarannya secara tradisional. Selain itu, mengungkap hubungan positif antara sikap dan pengetahuan penunjang terhadap kemampuan koneksi matematik siswa. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas I SMKN Kadipaten dan sampelnya adalah kelas I Ak1 sebagai kelas eksperimen dan kelas I Ak2 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah tes dan nontes. Tes berupa soal uraian, terdiri dari tes pengetahuan penunjang dan tes kemampuan koneksi matematik. Bentuk nontes berupa, format observasi, format wawancara dan skala sikap model Likert dengan 4 pilihan. Berdasarkan pengolahan analisis data hasil pretes dan tes pengetahuan penunjang secara kuantitatif, ternyata diketahui bahwa siswa-siswa pada kedua kelas penelitian mempunyai kemampuan awal matematik yang sama. Hasil analisis data pada postes yang ditinjau berdasarkan peningkatan kemampuan koneksi matematik, kemampuan jenis koneksi matematik, serta peningkatan kemampuan koneksi matematik berdasarkan siswa yang berkemampuan rendah, sedang dan tinggi, ternyata siswa yang pembelajarannya dengan pendekatan kontekstual secara signifikan lebih baik dari pada siswa yang pembelajarannya secara tradisional. Selain itu, terdapat hubungan yang positif, antara sikap dan pengetahuan penunjang terhadap kemampuan koneksi matematik siswa. Berdasarkan respon melalui skala sikap pasca pembelajaran kontekstual, ternyata rata-rata siswa menunjukan sikap yang positif terhadap matematika dan pembelajarannya. Sikap positif tersebut merupakan modal dasar untuk peningkatkan kemampuan koneksi matematik siswa dimasa mendatang.

Latar Belakang Masalah
Dalam menjalani abad 21, kita harus mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang benar-benar unggul dan dapat diandalkan untuk menghadapi persaingan bebas di segala bidang kehidupan sebagai dampak dari globalisasi dunia.
Pendidikan merupakan ujung tombak dalam mempersiapkan SDM yang handal, karena pendidikan diyakini akan dapat mendorong memaksimalkan potensi siswa sebagai calon SDM yang handal untuk dapat bersikap kritis, logis dan inovatif dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapinya. Hal tersebut senada dengan pendapat Sumarmo (2004:1) yang menyatakan bahwa pendidikan matematika sebagai proses yang aktif, dinamik, dan generatif melalui kegiatan matematika (doing math) memberikan sumbangan yang penting kepada siswa dalam pengembangan nalar, berfikir logis, sistematik, ktitis dan cermat, serta bersikap obyektif dan terbuka dalam menghadapi berbagai permasalahan.
Salah satu tujuan umum pembelajaran matematika kelompok program adaptif di tingkat SMK (Depdikbud : 2004) yaitu berfungsi untuk membentuk peserta didik sebagai individu agar memiliki dasar pengetahuan yang luas dan kuat untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di lingkungan sosial, lingkungan kerja, serta mampu mengembangkan diri sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, tehnologi dan seni. Artinya target kompetensi dasar matematik, khususnya kemampuan koneksi matematik siswa harus dapat ditumbuh-kembangkan melalui pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan bahan ajar serta sarana dan prasarananya.
Dalam proses kegiatan belajar-mengajar perlu adanya pendekatan pembelajaran yang penekanannya mengarah kepada kemampuan koneksi matematik, baik koneksi antar pokok bahasan dalam matematika, koneksi matematika dengan pelajaran lain dan koneksi matematika dengan kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematik harus mengacu pada empat pilar pendidikan universal yang disarankan UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together in peace and harmony. Melalui proses learning to know siswa akan memiliki pemahaman dan penalaran akan matematika dari hasil dan proses yang terkoneksikan, serta dari mana asal muasal konsep, dan ide-ide matematika terbentuk. Melalui proses mengetahui akan matematika, siswa akan memiliki potensi untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari atau bidang studi lainnya. Proses learning to do memberi kesempatan pada siswa untuk trampil dalam mengkoneksikan antara pengetahuan yang sudah dimiliki dengan pengetahuan baru, sehingga dalam benaknya tercipta bahwa ide-ide/konsep matematika terjalin dari suatu hubungan yang erat, dan tak dapat terpisah berdiri sendiri. Proses learning to be matematika, menurut Sumarmo (2004:9) bersamaan dengan proses learning to do, sehingga siswa akan memahami, menghargai atau mempunyai apresiasi terhadap nilai-nilai dan keindahan akan produk dan proses serta terbentuknya matematika. Sedangkan melalui learning to live together in peace and harmony siswa akan diberi kesempatan untuk belajar secara berkelompok, bekerja sama, bertukar pikiran-sharing dan saling menghargai.
Namun kenyataan di lapangan menunjukan indikasi yang berbeda, siswa memandang pelajaran matematika sebagai pelajaran yang “sulit dan menyeramkan”, matematika susah dimengerti dan dipenuhi rumus-rumus. Disamping itu, guru terbiasa melakukan pembelajaran secara konvensional, guru hanya sekedar penyampai pesan pengetahuan, sementara siswa cenderung sebagai penerima pengetahuan semata dengan cara mencatat, mendengarkan dan menghapal apa yang telah disampaikan oleh gurunya. Tentu, hasil dari pembelajaran seperti itu dapat kita rasakan dan lihat hasilnya sekarang ini, prestasi belajar matematika siswa pada umumnya masih rendah. Bahkan Ruspiani (2000:46) mengungkap bahwa rata-rata nilai kemampuan koneksi matematik siswa sekolah menengah masih rendah, nilai rata-ratanya kurang dari 60 pada skor 100, yaitu sekitar 22.2% untuk koneksi matematik dengan pokok bahasan lain, 44.9% untuk koneksi matematik dengan bidang studi lain, dan 67.3 % untuk koneksi matematik dengan kehidupan keseharian.
Menyimak kesenjangan harapan dan kenyataan pembelajaran matematika dewasa ini, maka penulis termotivasi untuk meneliti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang berjudul : Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual untuk Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematik Siswa SMK.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah ada perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematik siswa SMK antara pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan pembelajaran secara tradisional?
2. Apakah ada perbedaan kemampuan aspek koneksi matematik siswa SMK yang pembelajarannya dengan pendekatan kontekstual dan tradisional?
3. Apakah ada hubungan antara pengetahuan penunjang, sikap dan minat siswa terhadap kemampuan koneksi matematik siswa setelah bahan ajar kontekstual dan bahan ajar tradisional dilakukan di kelas ?
4. Bagaimanakah situasi proses belajar-mengajar ketika bahan ajar kontekstual dan bahan ajar tradisional dilakukan di kelas ?
5. Bagaimanakah respon siswa SMK terhadap pembelajaran kontekstual?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan, maka penelitian ini bertujuan untuk :
1. Menelaah, membandingkan, dan mendeskripsikan perbedaan peningkatan kemampuan koneksi matematik siswa SMK yang pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual dengan pembelajaran secara tradisional.
2. Menelaah, membandingkan, dan mendeskripsikan perbedaan kemampuan menurut aspek koneksi matematik antara siswa SMK yang menggunakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual maupun pembelajaran secara tradisional.
3. Menelaah dan mendeskripsikan hubungan antara pengetahuan penunjang, sikap dan minat siswa sebelum pembelajaran dengan kemampuan koneksi matematik siswa setelah bahan ajar kontekstual dan bahan ajar tradisional dilakukan di kelas.
4. Mengetahui situasi proses belajar-mengajar ketika bahan ajar kontekstual dan bahan ajar tradisional dilakukan di kelas.
5. Mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran kontekstual.
Pentingnya Masalah
Penelitian ini penting karena :
1. Memberikan sumbangan pemikiran yang signifikan terhadap upaya perencanaan pembelajaran pada pokok bahasan matematika lainnya, serta kerangka kerja pedagogiknya yang harus dipersiapkan guru, sehingga dapat meningkatkan kemampuan koneksi matematik siswa.
2. Bila penelitian ini berhasil positif, akan memberikan kontribusi bagi para guru matematika SMK untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.
3. Untuk para pengambil kebijakan pendidikan, dapat dijadikan sebagai sebuah rujukan dalam meningkatkan kemampuan kompetensi matematik siswa.
Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Pendefinisian pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang dikemukakan oleh ahli sangatlah beragam, namun pada dasarnya memuat faktor-faktor yang sama. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan mengambil, mensimulasikan, menceritakan, berdialog, bertanya jawab atau berdiskusi pada kejadian dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa, kemudian diangkat kedalam konsep yang akan dipelajari dan dibahas. Menurut Berns dan Ericson (2001), yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah suatu konsep pembelajaran yang dapat membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata, dan memotivasi siswa untuk membuat koneksi antara pengetahuan dan penerapannya dikehidupan sehari-hari dalam peran mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pekerja, sehingga mendorong motivasi mereka untuk bekerja keras dalam menerapkan hasil belajarnya.
Seting pembelajaran kontekstual difokuskan seperti berikut ini :
1) Siswa dibuat kelompok kecil sekitar 5 orang dengan kemampuan yang heterogen.
2) Pada awal pembelajaran guru memberikan apersepsi, manfaat materi yang akan dipelajarinya serta membahas beberapa soal PR yang terpilih.
3) Kelompok siswa diberikan permasalahan kontekstual (dalam bentuk LKS) yang menantang siswa, agar mencari solusinya.
4) Siswa mengeksplorasi pengetahuan dengan cara mengkoneksikan pengintegrasian pengetahuan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi, baik secara berkelompok ataupun sendiri.
5) Guru menggunakan sistem tanya jawab yang interaktif antara siswa dengan siswa ataupun siswa dengan guru, untuk menjelaskan hal yang tidak dimengerti oleh siswa.
6) Saat siswa mengerjakan LKS per kelompok, guru berkeliling kelas bertindak sebagai fasilitator dan moderator, membimbing siswa yang bermasalah.
7) Saat siswa selesai berdiskusi secara berkelompok, perwakilan salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya ke depan kelas. Melalui interaksi siswa digiring membahas permasalahan yang disajikan.
8) Diakhir pertemuan, diadakan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah berlangsung. Siswa dapat merangkum hasil pembelajaran, selanjutnya guru memberikan beberapa soal latihan di LKS untuk dikerjakan dirumah.
Metode dan Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan teknik analisis data yang diolah secara kuantitatif dan kualitatif. Dua kelompok siswa dipilih secara acak menurut kelas, yaitu kelompok eksperimen ( I ) memperoleh perlakuan berupa pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual, dan kelompok kontrol ( II ) secara tradisional. Sebelum perlakuan, kedua kelompok diberi tes pengetahuan penunjang dan pretes, setelah perlakuan diadakan postes.
Disain penelitiannya adalah disain kelompok kontrol pretes-postes, yaitu :
A 0 X 0
A 0 0
Keterangan : A = Pengelompokkan subjek secara acak kelas.
O = Pretes = Postes
X = Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas 1 SMK Negeri 1 Kadipaten Kabupaten Majalengka Propinsi Jawa Barat tahun pelajaran 2005/2006 sebanyak 349 siswa. Sampel penelitian kelas eksperimen adalah kelas I Ak 1, dan kelas kontrolnya adalah I Ak 2, masing-masing kelas terdiri dari 44 orang siswa.
Instrumen Penelitian dan Pengembangannya
1. Instrumen Skala Sikap
Instrumen skala sikap adalah modifikasi Likert dengan 4 item pilihan jawaban yaitu SS (sangat setuju), S (setuju), TS (tidak Setuju) dan STS (sangat tidak setuju). Semua pernyataan skala sikap sebelum perlakuan ( I ) dan sesudah Perlakuan ( II ) divalidasi secara logis dan empirik.
2. Format Observasi
Observasi yang dilakukan adalah ‘pengamatan berperan serta’, dibantu 3 orang guru SMKN yang telah mendapatkan pengetahuan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Format observasi divalidasi secara logis.
3. Format Wawancara
Format wawancara divalidasi secara logis. Wawancara hanya dilakukan pada kelas eksperimen dan subyek yang diwawancarai diambil secara acak dari kelas eksperimen tersebut.
4. Tes Pengetahuan Penunjang
Tes pengetahuan penunjang (TPP) berbentuk uraian sebanyak 10 soal yang diberikan sebelum pembelajaran dimulai, skor dan perangkat TPP divalidasi secara logis.
5. Tes Kemampuan Koneksi Matematik (TKKM)
Tes kemampuan koneksi matematik digunakan pada pretes dan postes. Validasi tes dilakukan secara logis dan empirik. Topik bahasan tes yaitu : Persamaan dan Pertidaksamaan Linier, Persamaan dan Pertidaksamaan Kuadrat, Sistim Persamaan Linier, Sistim Persamaan Linier dan Kuadrat, serta Sistim Pertidaksamaan/Program Linier. Soal disusun dalam bentuk tes uraian sebanyak 10 soal yang terbagi dalam tiga kelompok :
• Kelompok 1 (K1), adalah soal yang memiliki aspek koneksi dengan topik- topik dalam matematika.
• Kelompok 2 (K2), soal yang memiliki aspek koneksi dengan disiplin ilmu lain.
• Kelompok 3 (K3), soal yang memiliki aspek koneksi dengan dunia nyata.

Pengembangan Bahan Ajar dan Uji Cobanya
Pembelajaran dalam penelitian ini disusun dalam bentuk lembar kerja siswa (LKS) yang dilengkapi dengan petunjuk penyelesaian. Penyusunan LKS mempertimbangkan tugas, partisipasi, dan motivasi siswa yang dirancang dalam pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sesuai materi ajar yang akan diteliti.
Uji coba model pembelajaran dilaksanakan di kelas 1 Ak1 SMK PGRI Dawuan pada tanggal 23 Juli 2005 dengan topik Persamaan Kuadrat dan Sistim Pertidaksamaan Linier.
Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan tes skala sikap I, TPP dan pretes dimulai dari tanggal 8 Agustus hingga 15 Agustus 2005, sedangkan pelaksanaan pembelajaran menggunakan LKS sebanyak 13 buah, dimulai dari tanggal 22 Agustus sampai dengan 20 September 2005. Observasi pengamat I, II dan III dilakukan dari tanggal 29 Agustus hingga tanggal 19 September 2005. Postes dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 21 September 2005 yang dilanjutkan dengan tes skala sikap II, sedangkan wawancara dilakukan pada tanggal 22 September 2005.
Teknik Pengolahan Data Hasil Tes
Analisis statistik untuk teknik pengolahan data yang didapatkan dari skor-skor hasil tes dilakukan sesuai langkah-langkah sebagaimana pendapat Ruseffendi (1998) dan Nurgana (1993) berikut ini:
1. Menghitung nilai rata-rata hitung, dan simpangan baku
2. Menguji normalitas dengan menggunakan statistik uji Chi-Kuadrat
3. Menguji homogenitas varians pada statistik F..
4. Menguji perbedaan dua rata-rata dengan menggunakan uji-t.
5. Jika salah satu atau kedua kelompok sampel tidak berdistribusi normal maka pengujian hipotesis menggunakan tehnik uji U - Mann- Whitney.
Pengolahan data serta analisis statistik untuk mengetahui peningkatan kemampuan koneksi matematik antara siswa yang berkemampuan rendah, sedang dan tinggi berdasarkan gain normalnya adalah sebagai berikut (Ruseffendi,1998):
1. Membagi kelompok sampel menjadi sub kelompok tinggi, sedang dan rendah, berdasarkan nilai postes
2. Menghitung nilai peningkatan prestasi (gain normal) dari setiap sub kelompok.
3. Menguji normalitas data dari setiap sub kelompok.
4. Menguji homogenitas varians ketiga sub kelompok dengan uji Bartlett.
5. Menguji perbedaaan rata-rata peningkatan kemampuan koneksi matematika (KKM) ketiga sub kelompok dengan uji Anova satu jalur.
6. Menguji perbedaan rata-rata peningkatan KKM diantara ketiga sub kelompok dengan uji Scheffe.
Analisis statistik yang digunakan untuk mengetahui adakah hubungan yang positif antara skor tes skala sikap dan minat siswa terhadap matematika (x1), serta skor pengetahuan penunjang (x2) terhadap kemampuan koneksi matematik siswa (y) pada kelompok eksperimen dan kontrol, dilakukan langkah-langkah pengujian hipotesis asosiatif korelasi sampel ganda dua variabel independen sesuai pendapat Ruseffendi (1998:376), Nurgana (1993:93-97) dan Sugiyono (2004), yaitu :
1. Menguji normalitas dari masing-masing kelompok sampel dengan menggunakan statistik uji Chi-Kuadrat.
2. Jika seluruh kelompok sampel normal, dilanjutkan dengan menguji linieritas regresi.
3. Menghitung korelasi sederhana dan korelasi ganda.
4. Menguji signifikansi terhadap koefisien korelasi ganda dengan uji F.
5. Menentukan tingkat hubungan berdasarkan koefisien korelasi (R).
6. Jika minimal salah satu dari ketiga kelompok sampel tidak normal, maka langkah selanjutnya menghitung koefisien korelasi sederhananya dengan Korelasi Rank Spearman. Langkah pengujian selanjutnya, sama seperti langkah ke-3 hingga langkah ke-5 di atas.
2. Data Hasil Non Tes
Untuk memvalidasi dan mengestimasi butir skala sikap menurut pendapat Sumarmo (2002) caranya yaitu : (1) Tentukan skor tiap subyek, (2) Tentukan kelompok tinggi dan kelompok rendah, (3) Tentukan mean skor kelompok tinggi ( T) dan kelompok rendah ( R), (4) Tentukan variansi kelompok tinggi (sT2) dan kelompok rendah (sR2), (5) Tentukan jumlah sampel kelompok tinggi (nT) dan kelompok rendah (nR), (6) Hitung pengujian statistik dengan rumus t.
Selanjutnya, untuk menganalisis respon siswa pada tes skala sikap II yang telah divalidasi, analisis tes dilakukan dengan tiga cara. Pertama, mencari rataan skor dari keseluruhan siswa. Kedua, mencari rata-an per item soal dari seluruh siswa. Ketiga, mencari tingkat persetujuan siswa untuk masing-masing item.
Rata-rata respon siswa per item soal dikatakan positif bila rata-rata respon siswa tersebut lebih besar dari skor netralnya. Begitu pula sebaliknya. Skor netral dihitung berdasarkan rata-rata skor per item soal.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
1. Kemampuan Pengetahuan Penunjang
Hasil analisis perbedaan rata-rata TPP dan KKM sesuai tabel 1.
Tabel 1
Hasil Analisis Perbedaan Rata-rata Data Tes Pengetahuan Penunjang dan Kemampuan Koneksi Matematika
Jenis Tes Kelas
s χ2hit χ2tab Fhit Ftab, Nilai Makna
TPP Eksperimen 21,84 4,67 1,66 13,3 1,84 2,06 thitung 0,206 Tak berbeda
Kontrol 22,02 3,44 2,41 11,3 ttabel 2,6
Pretes KKM Eksperimen 14,48 4,20 3,92 13,3 1,26 2,06 thitung 2,14 Tak berbeda
Kontrol 16,50 4,63 2,09 13,3 ttabel 2,64
Postes KKM Eksperimen 37,48 7,26 5,47 13,3 1,11 2,01 thitung5,86 Berbeda
Kontrol 28,66 6,57 2,62 13,3 ttabel 2,64

Berdasarkan hasil analisis data terhadap rata-rata skor tes kemampuan pengetahuan penunjang pada kelas eksperimen dan kelompok kontrol, kedua kelompok memiliki kemampuan yang sama. Rata-rata tingkat penguasaannya berada pada kualifikasi penguasaan sedang, artinya seluruh rata-rata materi prasyarat telah cukup dikuasai oleh seluruh siswa sehingga kedua kelompok sampel penelitian sudah siap menerima dan beradaptasi dengan materi pelajaran yang akan diimplementasikan melalui pendekatan pembelajaran yang baru. Hal ini sesuai dengan pendapat Rhem (Ratnaningsih,2003:103) bahwa pengetahuan yang dimiliki siswa akan membantu mengadaptasi pengetahuan baru.
2. Kemampuan Koneksi Matematik (KKM) Siswa
Pada umumnya siswa kelompok eksperimen mengerjakan tes KKM melalui proses yang sistematis dengan menggunakan beberapa cara penyelesaian. Sedangkan siswa yang pembelajarannya secara tradisional pada umumnya hanya melalui satu cara. Hal ini menunjukkan bahwa siswa yang pembelajarannya dengan pendekatan kontekstual pada umumnya lebih mengutamakan proses penyelesaian dengan cara mengkaitkan pengetahuan yang berbeda-beda untuk menyelesaikan setiap permasalahan, dan tidak mengutamakan hasil/jawaban akhir saja, sedangkan siswa-siswa yang pembelajarannya secara tradisional lebih mengutamakan hasil akhir.
Hasil analisis perbedaan KKM terhadap hipotesis statistik melalui uji-t pada taraf signifikansi 0,05, ternyata KKM siswa melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual lebih baik dari pada siswa yang menggunakan pembelajaran tradisional. Hal ini sesuai dengan pendapat Suherman (2003:13) yang menyatakan bahwa “Secara logika dan rasa, pembelajaran dengan CTL sangat menjanjikan untuk peningkatan kualitas proses dan hasil belajar siswa, karena dapat mengembangkan potensi siswa secara optimal”.
Terungkap pula, tingkat penguasaan kemampuan koneksi matematik (TPKKM) kelas eksperimen dengan kualifikasi sangat tinggi 2% dan pada kelas kontrol tak ada seorangpun. TPKKM kualifikasi tinggi pada kelas eksperimen 32% dan kelas kontrol hanya 2%, sedangkan TPKKM kualifikasi sedang kelas ekperimen 48% dan kelas kontrol 30%., TPKKM untuk kualifikasi rendah di kelas eksperimen hanya 18%, sedangkan TPKKM kelas kontrol untuk kualifikasi rendah 66% dan sangat rendah 2%. Selain itu, rata-rata TPKKM sebelum perlakuan pada kelas eksperimen 0,26 = 26% dan kelas kontrol 0,3 = 30% tetapi setelah perlakuan ternyata rata-rata TPKKM kelas eksperimen 0,682 = 68,2% dan kelas kontrol hanya 0,521 = 52,1%. Demikian pula pada tingkat ketuntasan belajar siswa, pada kelas eksperimen sekitar 82% sedangkan kelas kontrol hanya 32%. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual dapat lebih meningkatkan prestasi siswanya, dari pada dengan pembelajaran secara tradisional. Hal tersebut sesuai pendapat Northwest Regional Education Laboratories (Suherman, 2003) yang menyatakan bahwa pengajaran kontekstual menciptakan kebermaknaan pengalaman belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa.
Kesimpulan tersebut diperkuat melalui analisis statistik uji perbedaan peningkatan (gain normal) KKM antara kelas ekperimen dengan kelas kontrol. Analisis tersebut mengungkapkan bahwa peningkatan KKM siswa melalui pembelajaran dengan pendekatan kontekstual lebih baik dibandingkan pembelajaran secara tradisional, baik berdasarkan aspek K1, K2, K3, maupun berdasarkan KKM secara menyeluruh. Hal itu, sesuai dengan tingkat penguasaan berdasarkan aspek koneksi, yaitu pada kelas eksperimen tingkat penguasaan KKM I adalah 0,6451 65%, KKM II adalah 0,634 63% dan untuk tingkat penguasaan KKM III adalah 0,792 79%, sedangkan pada kelas kontrol tingkat pengusaan aspek KKM I, II dan III, secara berturut turut adalah 40%, 51% dan 72% (Perhatikam gambar 1).
Gambar 1
Histogram Rata-rata Tingkat Penguasaan (TP)
Kemampuan Jenis Koneksi Matematik Kelas Eksperimen dan Kontrol










Melalui analisis perbedaan rata-rata peningkatan antara kelompok atas, sedang, dan bawah dari kelas penelitiannya masing-masing, terungkap bahwa peningkatan kelompok atas lebih baik dari pada kelompok tengah dan kelompok bawahnya, dan peningkatan kelompok tengah lebih baik dibandingkan kelompok bawahnya.
Berdasarkan analisis statistik yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara skor skala sikap dan minat siswa terhadap matematika (x1), serta skor pengetahuan penunjang (x2) terhadap kemampuan koneksi matematik siswa (y) pada kelas eksperimen dan kelas kontrol, ternyata pada kelas eksperimen koefisien korelasi ryx2 = 0.6305, ryx1 = 0.449, rx1x2 = 0.401 dan koefisien korelasi gandanya Ry. x1x2 = 0.67. Pada kelas kontrol ternyata ryx2 = 0.58, ryx1 = 0.23 dan rx1x2 = 0.29, koefisien korelasi ganda Ry. x1x2 = 0.584. Melalui uji F pada tahap keberartian 0,01 dengan derajad kebebasan pembilang 2 dan derajad kebebasan penyebut = 41 diperoleh kesimpulan ada korelasi yang positif antara sikap dan minat, serta pengetahuan penunjang terhadap kemampuan koneksi matematik yang pembelajarannya melalui pendekatan kontekstual maupun secara tradisional. Tingkat korelasi di kelas eksperimen tinggi, sedangkan kelas kontrol sedang.
3. Sikap Siswa Terhadap Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Hasil skala sikap siswa kelas eksperimen rata-ratanya bersikap positif, dengan persetujuan yang tinggi. Keadaan seperti ini, dapat menjadi modal untuk menciptakan suasana belajar yang efektif. Hal tersebut, sesuai dengan pendapat Berlin dan Hillen (Ruspiani, 2000:68) menyatakan bahwa sikap positif siswa akan menjadi awal untuk menuju lingkungan belajar yang efektif, dengan lingkungan belajar yang efektif menuntut guru bertindak kreatif, dengan kreatifitas guru dan keaktifan siswa dalam belajar, akan meningkatkan keberhasilan prestasi belajar matematik pada umumnya.
Hasil analisis hubungan antara sikap siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan kontesktual dan pengetahuan penunjang terhadap kemampuan koneksi matematik, diperoleh koefisien korelasinya R = 0,7374. Berdasarkan pengujian signifikasi korelasi dengan uji F ternyata terdapat hubungan yang signifikan kuat antara ketiga unsur tersebut. Jadi dapat dikatakan, bahwa sikap siswa setelah mengikuti pembelajaran kontekstual dapat mempengaruhi secara positif terhadap prestasi belajarnya.
4. Aktivitas Siswa Selama Proses Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual
Aktivitas siswa secara umum meningkat, antusiasisme belajar matematika semakin besar. Siswa terlibat aktif dalam menyelesaikan semua permasalahan dalam LKS yang diberikan, siswa merasa belajar serius tapi santai, tidak tegang dan menyenangkan.
Setiap sub pokok bahasan selesai dibahas, siswa diberi LKS tanpa disertai petunjuk penyelesaian. Dengan model LKS ini, diharapkan siswa dapat menerapkan materi yang telah diterima sebelumnya. Untuk soal yang berhubungan dengan aspek K1 dan K2, kadang-kadang beberapa kelompok siswa masih perlu mendapat bimbingan dari guru. Untuk itu, siswa dibimbing agar dapat mengkonstruksi pengetahuannya, melalui interaksi siswa pada umunya dapat menyelesaikan permasalahan yang diberikan.
Berdasarkan hasil observasi, ternyata aktivitas siswa yang paling dominan adalah mempelajari materi dalam LKS, membaca buku atau bahan ajar yang relevan dengan materi pembelajaran. Artinya mereka akan mengkoneksikan informasi/pengetahuan yang ada atau yang sudah dimiliki siswa sebelumnya dalam mengkonstruksi pengetahuan baru untuk menyelesaikan permasalahan soal yang dihadapinya.
Dari hasil observasi diketahui bahwa aktivitas siswa untuk mempelajari materi, berdiskusi, mengemukakan pendapatnya serta menyimpulkan materi yang telah dipelajari adalah sangat baik.
Kesimpulan
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual secara signifikan lebih baik dalam meningkatkan kemampuan koneksi matematik siswa dibandingkan dengan pembelajaran secara tradisional, begitu pula kemampuan aspek koneksi matematiknya.
Peningkatan kemampuan koneksi matematik yang berasal dari siswa kelompok tinggi secara signifikan lebih baik dibandingkan kelompok lainnya, sedangkan siswa kelompok sedang lebih baik dibandingkan kelompok rendah.
Hubungan antara sikap dan minat serta pengetahuan penunjang siswa terhadap kemampuan koneksi matematiknya adalah positif tinggi. Sikap dan minat siswa terhadap pembelajaran dengan pendekatan kontekstual menunjukkan arah positif. Sikap positif ini merupakan suatu modal dasar untuk menciptakan proses belajar yang efektif sehingga kemampuan koneksi matematik siswa masih dapat terus ditingkatkan.
Saran
Mengingat bahwa sekolah kejuruan bertujuan untuk mempersiapkan siswa agar dapat menerapkan semua pengetahuan yang didapat dari sekolah pada kehidupan nyata sehingga siswa akan siap bekerja sesuai dengan bidang yang digelutinya, maka pembelajaran dengan pendekatan kontekstual sangatlah potensial untuk segera diimplementasikan di lapangan. Agar dapat mencapai hasil yang memuaskan, maka kerangka teoritik model pembelajaran kontesktual yang sudah ada dapat dijadikan acuan yang utama. Pengimplementasian pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, perlu memperhatikan kesesuaian materi pembelajaran, sarana dan prasarana sekolah serta pembagian waktu dalam pembelajaran secara seksama.
Untuk para pengambil kebijakan pendidikan, kiranya pembelajaran dengan pendekatan kontekstual menjadi salah satu model pembelajaran yang ditindak lanjuti dengan pelatihan-pelatihan yang lebih intensif tentang pembelajaran ini. Guru dan praktisi pendidikan sudah sepantasnya segera merubah kebiasaan pembelajaran yang didominasi oleh guru, dengan demikian believe pembelajaran yang terkini adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Berns, R.G and Erickson, P.M. (2001). Contextual Teaching and Learning. The Highlight Zone : Research a Work No. 5 (Online) Available: http: //www.ncte.org/publications/infosyntesis/highlight 05/index.asp ?dirid = 145 & dspid =1.
Departemen Pendidikan Nasional (2004). Kurikulum SMK Edisi 2004. Jakarta : Dirjen Dikmenjur
Nurgana (1993). Statistika Penelitian. Bandung: C.V Permadi
Ratnaningsih, N. (2003). Mengembangkan Kemampuan Berpikir Matematik Siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis : UPI Bandung : Tidak diterbitkan.

Ruseffendi, E.T. (1991). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika CBSA. Bandung: Tarsito.
---------------- (1998). Statistika Dasar untuk Penelitian Pendidikan. Bandung : IKIP Bandung Pres.
Ruspiani. (2000). Kemampuan Siswa dalam Melakukan Koneksi Matematik. Tesis : UPI. Bandung : Tidak diterbitkan.
Sugiyono (2002), Statistika untuk Penelitian, C V Alfabeta, Bandung.
Suherman, E. (2001). Evaluasi Proses dan Hasil Belajar Matematika. Jakarta: Pusat Penerbitan UT.
----------------- (2003). Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika. Makalah. Bandung : Depdiknas Pemda Jabar.
Sumarmo,U. (2004). Pembelajaran Matematika untuk Mendukung Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Makalah. Bandung : PPS UPI.

1 komentar:

Aziez mengatakan...

Assalamu'alaikum. Menarik sekali membaca penelitian yang Bapak sampaikan, mudah-mudahan bisa menjadi rujukan dan bermanfaat bagi dunia pendidikan